Senin, 13 April 2015

PENGARUH MOTIVASI DAN AKTIVITAS BELAJAR TERHADAP HASIL BELAJAR MAHASISWA DI AKADEMI KEBIDANAN KESEHATAN BARU DOLOKSANGGUL TAHUN 2014



BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Belajar merupakan kegiatan yang harus dilakukan manusia dalam mengembangkan potensi yang dimiliki dalam dirinya. Kompetensi ini merupakan kemampuan yang dapat dilakukan siswa yang mencapai tiga aspek, yaitu; pengetahuan, sikap, dan keterampilan (1). Dalam belajar diperlukan pemusatan perhatian, tanpa pemusatan aktivitas belajar akan sia – sia. Kekecewaanlah yang ditemui. Ketidakmampuan seseorang berkonsentrasi dalam belajar disebabkan buyarnya perhatian terhadap suatu objek. Hal inilah yang tidak diinginkan oleh siapa pun yang sedang belajar (2)
Pendidikan merupakan sebuah program yang terdiri dari beberapa komponen yang bekerja dalam sistem. Pendidikan merupakan arena untuk re- aktivasi karakter luhur bangsa Indonesia. Secara histori Indonesia adalah bangsa yang memiliki karakter kepahlawanan, nasionalisme, sifat heroik, semangat kerja keras serta berani menghadapi tantangan. Pendidikan sebagai sarana untuk membangkitkan suatu karakter bangsa yang dapat mengakselerasi pembangunan sekaligus memobilasi potensi domestik untuk meningkatkan daya saing bangsa (4).
Belajar bukanlah berproses dalam kehampaan, tidak pula pernah pula sepi dari berbagai aktivitas. Tidak terlihat orang yang belajar tanpa melibatkan aktivitas raganya. Apalagi bila aktivitas belajar itu berhubungan dengan masalah

menulis, mencatat, memandang, membaca, mengingat, berpikir, latihan atau praktek dan sebagainya. Dalam belajar, seseorang tidak akan dapat menghindarkan diri dari suatu situasi. Situasi akan menetukan aktivitas apa yang akan dilakukan dalam rangka belajar. Bahkan situasi itulah yang mempengaruhi dan menentukan aktivitas belajar apa yang dilakukan kemudian. Setiap situasi di manapun dan kapanpun  memberikan kesempatan belajar kepada seseorang(5).
            Proses belajar sesungguhnya bukanlah semata kegiatan menghafal. Banyak hal yang kita ingat atau pelajari akan hilang dalam beberapa jam. Mempelajari bukanlah menelan semuanya. Untuk mengingat apa yang telah diajarkan, siswa harus mengolahnya atau memahaminya. Dalam aktivitas ini mereka sendiri ( siswa ) yang harus menata apa yang mereka dengar dan lihat untuk menjadi satu kesatuan yang bermakna (6).
Dalam proses belajar , motivasi sangat diperlukan, sebab seseorang yang mempunyai motivasi dalam belajar, tak akan mungkin melakukan aktivitas belajar. Banyak para ahli yang mengemukakan pengertian motivasi dengan berbagai sudut pandang mereka masing – masing, namun intinya sama, yakni sebagai suatu pendorong yang mengubah energi dalam diri seseorang ke dalam bentuk aktivitas nyata untuk mencapai tujuan (2).
Motivasi yang dimiliki seseorang dalam melakukan aktivitasnya akan mencerminkan seberapa hasil yang akan diperoleh dalam aktivitas belajarnya. Bahwa motivasi itu mengawali terjadinya perubahan energi pada diri setiap individu. Karena adanya tujuan yang ingin dicapai dengan tingginya motivasi maka hasil atau tujuan yang ingin diperoleh maka akan lebih bagus dan memuaskan. Terlebih jika memperoleh motivasi dari luar maka akan menunjang semangan mahasiswa untuk melakukan sesuatu yang lebih dan lebih bangus buat kegiatan yang ingin dicapainya.
Dengan adanya berbagai aktivitas yang diadakan oleh mahasiswa akan juga menunjang kegiatan apa yang akan dilakukan. Apakah bermanfaat atau tidak, dengan motivasi yang kuat dan aktivitas yang beragam akan menunjang seseorang untuk berubah menjadi lebih baik dan bermanfaat. Dengan demikain mahasiswa akan memperoleh hasil belajar yang baik.
Pendidikan merupakan sebuah program yang terdiri dari beberapa komponen yang bekerja dalam sistem. Program  adalah kegiatan yang akan dilakukan dengan perencanaan dan tujuan yang akan dicapai. Sebagai sebuah program pendidikan memerlukan evaluasi untuk melihat apakah tujuan program yang direncanakan dapat dicapai (3). Belajar pada dasarnya merupakan suatu proses perubahan tingkah laku yang terjadi dari adanya interaksi antara seseorang dengan lingkungannya, ciri bahwa seseorang telah melakukan suatu proses belajar, adalah adanya perubahan tingkah laku yang relatif permanen, tingkah laku yang diperoleh sebagai hasil belajar , dapat berupa pengetahuan, sikap dan keterampilan. Bentuk – bentuk belajar mempunyai kaitan dengan proses untuk memperoleh hasil belajar (7).
Aktivitas belajar tidak dapat dilepaskan dari motivasi. Karena aktivitas belajar merupakan kegiatan yang melibatkan unsur jiwa dan raga. Motivasi mempunyai peranan yang strategis dalam aktivitas seseorang. Tidak ada seseorang yang belajar tanpa motivasi. Tidak ada motivasi berarti tidak ada kegiatan belajar. Agar peranan motivasi lebih optimal, maka prinsip – prinsip motivasi dalam belajar tidak hanya diketahui tetapi harus dapat diterapkan dalam aktivitas belajar. Dengan demikian maka aktivitas yang dilakukan yang berdampingan dengan motivasi yang tinggi maka akan memperoleh nilai/hasil belajar yang baik ataupun sempurna.
Hasil belajar seringkali digunakan sebagai ukuran untuk mengetahui seberapa jauh seseorang menguasai bahan  yang sudah diajarkan (7). Untuk mengaktualisasikan hasil belajar tersebut diperlukan serangkaian pengukuran menggunakan alat evaluasi yang baik dan memenuhi syarat. Penggukuran demikian dimungkinkan karena penggukuran merupakan kegiatan ilmiah yang dapat diterapkan pada berbagai bidang pendidikan (3).
Berbagai aktivitas yang telah dilakukan di Akademi Kebidanan Kesehatan Baru Doloksanggul, maka dapat diambil hasil belajar. Dari semua jumlah mahasiswa, peneliti melakukan pengambilan hasil belajar pada mahasiswa tingkat II ( semester III) yaitu pada mata pelajaran Askeb II yaitu Asuhan Kebidanan Persalinan atau Intra Natal Care ( INC). Dari mahasiswa tingkat II di Akademi Kebidanan Kesehatan Baru Doloksanggul dengan jumlah mahasiswa sebayak 75 orang , mahasiswa yang memperoleh nilai Askeb II dengan bobot nilai A ( 4.00 – 3.51) = 1 orang mahasiswa, bobot nilai B ( 3.50 – 3.00) = 30 orang mahasiswa, bobot nilai  C ( 2.99 – 2, 76) = 31 orang mahasiswa, dan D ( 2.75 – 2.00) = 13 orang mahasiswa. Dari hasil belajar Askeb II ini peneliti tertarik untuk meneliti tentang “ Pengaruh Motivasi dan Aktivitas Belajar Terhadap Hasil Belajar Mahasiswa Akademi Kesehatan Baru Doloksanggul 2014 “ masalah ini sangat penting diteliti, karena aktivitas dan motivasi ini merupakan salah satu aspek penentu mahasiswa itu mampu atau tidak menerapkan Askeb II di dunia pendidikan maupun dilapangan. Kemudian yang tidak kalah pentingnya lagi adalah peran tugas Staf Akademik (Dosen) sebagai motivator hendaknya mampu mengembangkan proses interaksi yang edukatif sehingga dapat menumbuhkan dan meningkatkan motivasi belajar yang pada tempatnya tercipta aktivitas belajar yang optimal sesuai yang diharapkan, sehingga tingkat prestasi belajar mahasiswa yang optimal dapat tercapai dengan sempurna.
1.2.Identifikasi Masalah
Dari latar belakang di atas, dapat diidentifikasi masalah yaitu :
a.       Adakah pengaruh aktivitas terhadap hasil belajar mahasiswa ?
b.      Adakah pengaruh motivasi terhadap hasil belajar mahasiswa?
c.       Seberapa besarkah pengaruh motivasi  terhadap aktivitas belajar  mahasiswa?
1.3.Rumusan Masalah
Dari latar belakang diatas , maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut : Bagaimanakah Pengaruh Motivasi dan Aktivitas Belajar Terhadap Hasil Belajar di Akademi Kesehatan Baru Doloksanggul Tahun Ajaran 2014 ?
1.4.Tujuan Penelitian
1.4.1.      Tujuan Umum
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Pengaruh Motivasi dan Aktivitas Belajar Terhadap Hasil Belajar di Akademi Kesehatan Baru Doloksanggul Tahun 2014.



1.4.2.      Tujuan Khusus
Adapun tujuan khusus penelitian ini adalah :
a.       Untuk mengetahui motivasi mahasiswa terhadap hasil belajar  Askeb II di Akademi Kesehatan Baru Doloksanggul Tahun Ajaran 2014.
b.      Untuk mengetahui aktivitas mahasiswa terhadap hasil belajar Askeb II di Akademi Kesehatan Baru Doloksanggul Tahun ajaran 2014.
c.       Untuk mengetahui pengaruh motivasi dan aktivitas belajar terhadap hasil belajar Askeb II di Akademi Kesehatan Baru Doloksanggul
1.5.Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat untuk secara teoritis dan secara praktis:
1.      Secara Teoritis :
a.       Menambah karya ilmiah dan sebagai refensi tambahan di perpustakaan khususnya yang menyangkut tentang motivasi dan aktivitas.
b.      Penelitian ini diharapkan dapat memperkaya ilmu pengetahuan terutama dalam bidang Askeb II khususnya yang menyangkut motivasi dan aktivitas.
2.      Secara Praktis :
a.       Sebagai bahan masukan bagi pihak institusi pendidikan
Sebagai bahan masukan dan pertimbangan bagi mahasiswa Akademi Kesehatan Baru Doloksanggul tentang pengaruh motivasi dan aktivitas belajar terhadap hasil belajar.
b.      Sebagai bahan perbandingan dalam melakukan penelitian di masa yang akan rating.
c.       Memberikan masukan kepada peneliti dalam memperluas wawasanya.



BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1.      Peneliti Terdahulu
            Dari peneliti terdahulu yaitu Yunita susanti dari Universitas Negeri Padang dengan judul pengaruh aktivitas dan motivasi belajar  terhadap hasil belajar pada tahun 2013 memperoleh hasil dari setiap variabel yang diperoleh yaitu variabel aktivitas belajar 3,58 dengan tingkat capaian responden 71,59% yang tergolong pada kriteria baik. Hal ini menandakan bahwa pengaruh aktivitas terhadap hasil belajar baik. Sedangkan rata – rata variable motivasi belajar adalah 3,42 dengan tingkat capaian responden 68,41% yang tergolong pada kriteria bak. Hal ini menandakan bahwa pengaruh motivasi belajar terhadap hasil belajar sangat baik. Dengan demikian, semakin tinggi aktivitas belajar, motivasi belajar, maka semakin tinggi pula hasil belajar.
            Dari peneliti terdahulu atas nama Aditiya Fadly dari Universitas Negeri Malang dengan judul peningkatan aktivitas terhadap hasil belajar pada tahun  2012 memperoleh hasil observasi dari aktivitas siswa pada kegiatan pembelajaran tersebut menunjukan bahwa aktivitas siswa selama proses pembelajaran terjadi peningkatan. Pada frekuensi bertanya terjadi peningkatan sebesar 57,14%, sedangkan pada frekeunsi menjawab meningkat sebesar 85,72%, frekuensi memberi tanggapan meningkat sebesar 50% dan pada frekuensi memberikan sanggahan terjadi peningkatan sebesar 250%. Dengan demikian dengan terjadinya peningkatan aktivitas belajar maka ketuntasan dalam memperoleh hasil belajar memperoleh hasil belajar yang memuaskan.

2.2.      Hasil Belajar
2.2.1.   Defenisi
            Belajar merupakan proses dalam individu yang berinteraksi dengan lingkungan untuk mendapatkan perubahan dalam perilaku. Belajar adalah aktivitas mental/psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilakan perubahan-perubahan dalam pengetahuan, keterampilan dan sikap. Perubahan itu diperoleh melalui usaha (bukan karena kematangan), menetap dalam waktu yang relatif lama dan merupakan hasil pengalaman (3).
Proses belajar merupakan proses yang unik dan kompleks. Keunikan itu disebabkan karena hasil belajar  hanya terjadi pada individu yang belajar , tidak pada orang lain, dan setiap individu menampilkan perilaku belajar yang berbeda (3).
Belajar bukanlah kegiatan sekali tembak. Proses belajar berlangsung secara bergelombang. Belajar memerlukan kedekatan dengan materi yang hendak dipelajari, jauh sebelum bisa memahaminya. Belajar juga memerlukan kedekatan dengan berbagai macam hal, bukan sekedar pengulangan atau hafalan (6).
Namun, dari semua itu tidak setiap orang mengetahui apa itu belajar. Seandainya dipertanyakan apa yang sedang dilakukan? Tentu saja jawabannya adalah “ belajar” itu adalah penegrtian yang tersimpan didalamnya. Penegertian

dari kata “ belajar” itulah yang perlu diketahui dan dihayati, sehingga tidak melahirkan pemahaman yang keliru mengenai masalah belajar (5).
Masalah pengertian belajar ini, para ahli psikologi dan pendidikan mengemukakan rumusan yang berlainan sesuai dengan  bidang keahlian mereka masing-masing. Tentu saja mereka mempunyai alasan yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
James O. Whittaker, misalnya , merumuskan belajar sebagai proses di mana tingkah laku ditimbang atau diubah melalui latihan atau pengalaman. Cronbach berpendapat bahwa  belajar sebagai aktivitas yang ditujukkan oleh perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman. Howard L. Kingskey mengatakan belajar adalah proses dimana tingkah laku (dalam arti luas) ditimbulkan atau diubah melalui praktek atau latihan. Sedangka Geoch merumuskan learning is change is performance as a result of practice. Drs. Slameto juga merumuskan pengertian belajar. Menurutnya belajar adalah suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungan.
Akhirnya dapat disimpulkan bahwa belajar adalah serangkaian kegiatan jiwa raga untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman individu dalam interaksi dengan lingkungannya yang menyangkut kognitif, afektif, dan psikomotor (2)
2.2.2    Tujuan Pendidikan Dan Hasil Belajar
            Tujuan pendidikan direncanakan untuk dapat dicapai dalam proses belajar mengajar. Hasil belajar merupakan pencapian tujuan pendidikan pada mahasiswa yang mengikuti proses belajar mengajar. Tujuan pendidikan bersifat ideal, sedangkan hasil belajar bersifat aktual. Hasil belajar merupakan realisasi tercapainya tujuan pendidikan, sehingga hasil belajar yang diukur sangat tergantung kepada tujuan pendidikan (3).
Hasil belajar perlu dievaluasi. Evaluasi dimaksudkan sebagai cermin untuk melihat kembali apakah tujuan yang ditetapkan telah tercapai dan apakah proses belajar mengajar telah berlangsung efektif untuk memperoleh hasil belajar. Belajar  sebagai perubahan perilaku terjadi setelah siswa mengikuti atau mengalami suatu proses belajar mengajar, yaitu hasil belajar dalam bentuk penguasaan kemampuan atau keterampilan tertentu (8).
            Pendidikan  sebagai sarana untuk membangkitkan suatu karakter  bangsa yang dapat mengakselerasi pembangunan sekaligus memobilisasi potensi domestik untuk meningkatkan daya saing bangsa. Secara historis bangsa Indonesai adalah bangsa yang memiliki karakter kepahlawanan, nasionalisme, sifat heroik, semangat kerja keras serta berani menghadapi tantangan (4).
Meskipun pembelajaran dapat terjadi di lingkungan manapun namun satu- satunya pembelajaran yang dilakukan adalah di sekolah. Satu – satunya perbedaan antara pembelajaran yang dilakukan di sekolah dengan lingkungan lainnya adalah adanya tujuan pendidikan yang direncanakan untuk membuat perubahan perilaku. Tujuan pendidikan disekolah mengarahkan semua komponen seperti metode mengajar, media, materi, alat evaluasi, dan sebagainya dipilih sesuai dengan tujuan pemdidikan. Hasil belajar termasuk komponen pendidikan yang harus disesuaikan dengan tujuan pendidikan, karena hasil belajar diukur untuk mengetahui ketercapaian tujuan penddiakn melalui proses belajar mengajar (3).
2.2.3.   Domain Hasil Belajar
            Belajar menimbulkan perubahan perilaku dan pembelajaran adalah usaha mengadakan perubahan perilaku dan pembelajaran adalah usaha mengadakan perubahan perilaku dengan mengusahakan terjadinya proses belajar dalam diri siswa. Perubahan dalam kepribadian ditunjukan oleh adanya perubahan perilaku akibat belajar.
            Dalam usaha memudahkan memahami dan mengukur perubahan perilaku maka perilaku kejiwaan manusia dibagi menjadi tiga domain atau ranah: kognitif, efektif dan psikomotorik. Kalau belajar menimbulkan perubahan perilaku, maka hsil belajar merupakan hasil perubahan perilaku. Domain hasil belajar adalah perilaku- perilaku kejiwaan yang akan diubah dalam proses pendidikan. Perilaku kejiwaan itu dibagi dalam tiga domain: kognitif, afektif, dan psikomotorik. Potensi perilaku untuk diubah, pengubahan perilaku dan hasil perilaku dapat digambarkan sebagai berikut:
INPUT
PROSES
HASIL
Siswa:
1.      Kognitif
2.      Afektif
3.      Psikomotor
Proses belajar mengajar
Siswa:
1.      Kognitif
2.      Afektif
3.      Psikomotor
Potensi perilaku yang dpat diubah
Usaha mengubah perilaku
Perilaku yang telah berubah:
1.      Efek pengajaran
2.      Efek pengirings

            Setiap siswa mempunyai potensi untuk dididik. Potensi itu merupakan perilaku yang dapat diwujudkan menjadi kemampuan nyata. Potensi jiwa yang dapat diubah melalui pendidikan meliputi domain kognitif, afektif, dan psikomotorik. Pendidikan atau pembelajaran adalah usaha mengubah potensi perilaku kejiwaan agar mewujudkan menjadi kemampuan. Hasil belajar adalah perwujudan kemampuan akibat perubahan perilaku yang dilakukan oleh usaha pendidikan. Kemampuan menyangkut domain kognitif, afektif, dan psikomotorik.
            Hasil belajar atau perubahan perilaku yang menimbulkan kemampuan dapat berupa hasil utama pengajaran maupun hasil sampingan pengiring. Hasil utama pengajaran adalah kemampuan hasil belajar yang memandang direncabakan untuk diwujudkan dalam kurikulum dan tujuan pembelajaran. Sedangkan hasil pengiring adalah hasil belajar yang dicapai namun tidak direncankan untuk dicapai (3).
1.                  Hasil Belajar Kognitif
Hasil belajar kognitif adalah perubahan perilaku yang terjadi dalam kawasan kognisi. Proses belajar yang melibatkan kognisi meliputi kegiatan sejak dari penerimaan stimulus eksternal oleh sensori, penyimpanan dan pengolahan dalam otak menjadi informasi ketika diperlukan untuk menyelesaikan masalah. Oleh kerena belajar melibatkan otak maka perubahan perilaku akibatnya juga terjadi dalam otak berupa kemapuan tertentu oleh otak untuk menyelesakan masalah.
Hasil belajar kognitif tidak merupakan kemampuan tunggal. Kemampuan yang menimbulkan perubahan perilaku dalam domain kognitif meliputi beberapa tingkat atau jenjang. Tingkat hasil belajar kognitif mulai dari yang paling rendah dan sederhana yaitu hafalan sampai yang paling tinggi dan kompleks dan penguasaan suatu tingkat mempersyaratkan penguasaan tingkat sebelumnya. Enam tingkat itu adalah hafalan (C1), pemahaman (C2), penerapan (C3), analisa( C4), sintesis (C5), dan evaluasi (C6).
2.                  Hasil belajar afektif
            Taksonomi hasil belajar afektif dikemukakan oleh Krathwohl membagi hasil belajar afektif menjadi lima tingkat yaitu penerimaan, partisispasi,penilaian, organisasi dan internalisasi.  Hasil belajar disusun secara hirarkhis mulai dari tingkat yang paling rendah dan sederhana hingga  yang paling kompleks .
            Penerimaan (receiving) atau menaruh perhatian (attending) adalah kesediaan menerima rangsangan dengan memberikan perhatian kepada rangsangan yang datang kepadanya. Partisipasi atau merespon (responding) adalah kesediaan memberikan respons dengan berpartisipasi. Pada tingkat ini siswa tidak hanya memberikan perhatian kepada rangsangan tapi juga berpartisipasi dalam kegiatan untuk menerima rangsangan. Penilaian atau penentuan sikap adalah kesedian untuk menentukan pilihan sebuah nilai dari rangsangan tersebut. Organisasi adalah kesediaan mengorganisasikan nilai-nilai yang dipilihnya untuk menjadi pedoman yang mantap dalam perilaku. Internalisasi nilai yang diorganisasikan untuk tidak hanya menjadi pedoman perilaku tetapi juga menjadi bagian dari pribadi dalam perilaku sehari-hari.
3.                  Hasil belajar psikomotorik
            Hasil belajar disusun dalam urutan mulai dari yang paling rendah dan sederhana sampai yang paling  tinggi dan kompleks. Hasil belajar tingkat yang lebih tinggi hanya dapat dicapai apabila siswa telah menguasai hasil belajar yang lebih rendah. Hasil belajar psikomotorik dapat diklasifikasikan menjadi enam: gerakan refleks, gerakan fundamental dasar, kemampuan perseptual, kemampuan fisis, gerakan keterampilan, dan komunikasi tanpa kata. Dan para ahli lain yang membagi hasil belajar psikomotorik ini mengklasifikasikan menjadi, persepsi, kesiapan, gerakan terbimbing, gerakan terbiasa, gerakan kompleks dan kreativitas.
            Persepsi adalah kemampuan hasil belajar psikomotorik yang paling rendah. Persepsi adalah kemampuan membedakan suatu gejala dengan gejala lain. Kesiapan adalah kemampuan menempatkan diri untuk memulai suatu gerakan. Misalnya kesiapan menempatkan sebelum lari, menari, mengetik, memperagakan, mendemostrasikan dan sebagainya. Gerakan terbimbing adalah kemampuan melakukan gerakan meniru model yang dicontohkan. gerakan terbiasa adalah kemampuan melakukan gerakan tanpa ada model contohnya kempuan diperoleh karena latihan berulang-ulang sehingga menjadi kebiasaan. Gerakan kompleks adalah kemampuan melakukan serangkaian gerakan dengan cara, urutan dan irama yang tepat. Kreativitas adalah kemampuan menciptakan gerakan-gerakan baru yang tidak ada sebelumnya atau mengobinasikan gerakan-gerakan yang ada menjadi kombinasi gerakan baru yang orisinal.
2.2.4 Kesimpulan hasil belajar
            Tujuan pendidikan merupakn perubahan perilaku yang direncanakan dapat dicapai melalui proses belajar mengajar. Hasil belajar adalah hasil yang dicapai dari proses belajar mengajar sesuai dengan tujuan pendidikan. Hasil belajar diukur untuk mengetahui pencapaian tujuan pendidikan sehingga hasil belajar harus sesuai dengan tujuan pendidikan.
            Hasil belajar adalah perubahan perilaku yang terjadi setelah mengikuti proses belajar mengajar sesuai dengan tujuan pendidikan. Manusia mempunyai potensi perilaku kejiwaan yang dapat dididik dan diubah perilakunya yang meliputi domain kognitif, afektif dan psikomotorik. Belajar mengusahakan perubahan perilaku dan domain-domain tersebut sehingga hasil belajar merupakan perubahan perilaku dalam domain kognitif, afektif dan psikolotorik.
            Untuk kepentingan pengukuran hasil belajar domain disusun secara hirarkhis dalam tingkat-tingkat mulai dari yang paling rendah dan sedehana hingga yang paling tinggi dan kompleks. Dalam doman kognitif diklasifikasikan menjadi kemampuan hafalan, pemahaman, penerapan,analisis,sintesis dan evaluasi. Dalam domain afektif hasil belajar meliputi level: penerimaan, partisipasi, penilaian,organisasi, dan karakterisasi. Sedangkan domain psikomotorik terdiri dari level: persepsi, kesiapan, gerakan terbimbing, gerakan terbiasa, gerakan kompleks dan kreativitas.
2.3.  Aktivitas
2.3.1. Konsep Aktivitas
                        Proses pembelajaran yang dilakukan dalam kelas merupakan aktivitas mentranformasikan pengetahuan, sikap, dan keterampilan. Pengajar diharapkan mengembangkan kapasitas belajar, kompetensi dasar, dan potensi yang dimiliki oleh siswa secara penuh. Pembelajaran yang dilakukan lebih berpusat pada siswa, sehingga siswa ikut berpartisipasi dalam proses pembelajaran, dapat mengembangkan cara- cara belajar mandiri, berperan dalam perencanaan, pelaksanaan, penilaian proses pembelajaran itu sendiri, maka di sini pengalaman siswa lebih diutamakan dalam memutuskan titik tolak kegiatan (1).
            Menurut para ahli psikologi bahwa setiap manusia memiliki berbagai kebutuhan, meliputi kebutuhan jasmani, rohani dan sosial. Kebutuhan menimbulkan dorongan untuk berbuat. Perbuatan-perbuatan yang dilakukan, termaksud kegiatan belajar dan bekerja, dimaksudkan untuk memuaskan kebutuhan tertentu dan untuk mencapai tertentu pula. Setiap saat kebutuhan dapat berubah dan bertambah, sehingga variasinya semakin banyak dan semakin luas. Dengan sendirinya perbuatan yang dilakukan semakin banyak dan beraneka ragam pula (1).
            Dalam pendidikan dan pengajaran, tujuan dapat diartikan sebagai suatu usaha untuk memberikan rumusan hasil yang dapat diharapkan dari siswa/subjek belajar, setelah menyelesaikan/memperoleh pengalaman belajara. (9)
                        Keaktivas siswa dalam proses pembelajaran dapat merangsang dan mengembangkan bakat yang dimiliki, berfikir kritis, dan dapat memecahkan permasalahan-permasalahan dalam kehidupan sehari-hari. Di samping itu pengajar dapat merekayasa sistem pembelajaran secara sistematis, sehingga merangksang keaktivan siswa dalam proses pembelajaran. Ada 7 aspek terjadinya keaktivan siswa:
1.      Partisipasi siswa dalam menetapkan tujuan kegiatan pembelajaran.
2.      Tekanan pada aspek apektif dalam belajar.
3.      Partisispasi siswa dalam kegiatan pembelajaran, terutama yang berbentuk interaksi antara siswa.
4.      Kekompakan kelas sebagai kelompok belajar.
5.      Kebebasan belajar yang diberikan kepada siswa, dan kesempatan untuk berbuat serta mengambil keputusan penting dalam proses pembelajaran.
6.      Pemberian waktu untuk menanggulagi masalah pribadi siswa, baik berhubungan maupun tidak berhubungan dengan pembelajaran.
            Bertitik tolak dari konsep dan teori aktivitas diatas, maka pembelajran yang dilakukan antara guru dan siswa, harus mengacu pada peningkatan aktivitas dan partisipasi siswa. Pengajar/guru tidak hanya melakukan kegiatan menyampaikan pengetahuan, keterampilan, dan sikap kepada siswa, akan tetapi guru harus mampu membawa siswa untuk aktif dalam berbagai bentuk belajar, berupa belajar penemuan, belajar mandiri, belajar kelompok, belajar memecahkan masalah, dan bayak lagi (1)
            Siswa diibaratkan kertas putih, sedangkan unsur dari luar yang menulis adalah tenaga pengajar. Dalam hal ini terserah kepada tenaga pengajar, mau dibawa kemana, mau diapakan siswa itu, karena tenaga pengajar, adalah yang memberikan dan mengatur isi. Dengan demikian aktivitas didominasikan oleh tenaga pengajar, sedangkan anak didik bersifat pasif dan menerima begitu saja (9).
            Dengan melibatkan siswa berperan dalam kegiatan pembelajran, berarti kita mengembangkan kapasitas belajar dan potensi yang dimiliki siswa secara penuh. Dalam konsep kompetensi, kita harus mampu mendeteksi kemampuan minimal siswa, dan kemudian tercapainya suatu indikator-indikator yang dilahirkan oleh kompetensi dasar tadi (1).


2.3.2.   Prinsip Aktivitas
            Prinsip belajar pada dasarnya adalah melakukan aktivitas (9). Seperti yang diungkapkan “ belajar merupakan suatu proses interaksi antara diri manusia dengan lingkungan yang mungkin berwujud pribadi, fakta, konsep ataupun teori” (9)
            Dalam belajar diperlukan aktivitas,sebab pada prinsipnya belajar adalah berbuat. Berbuat untuk mengubah tingkah laku menjadi melakukan kegiatan. Tidak ada belajar kalau tidak ada aktivitas. Aktivitas belajar merupakan seala kegiatan yang dilakukan dalam proses interaksi (tenaga pengajar dan siswa) dalam rangka mencapai tujuan belajar (10)
            Prinsip-prinsip aktivitas dalam belajar dilihat dari sudut pandang perkembangan konsep jiwa menurut ilmu jiwa. Dengan melihat unsur kejiwaan seseorang subjek belajar/subjek berdidik, dapatlah diketahui bagaimana prinsip aktivitas yang terjadi dalam belajar itu. Karena dilihat dari sudut pandang ilmu jiwa, maka sudah barang tentu yang menjadi fokus perhatian adalah komponen manusia yang melakukan aktivitas dalam belajar-mengajar, yakni siswa dan guru (9).
            Dalam belajar, seseorang tidak dapat dihindarkan dari situasi, situasi akan menentukan aktivitas apa yang akan dilakukan dalam rangka belajar. Bahkan situasi yang mempegaruhi dan menentukan aktivitas belajar apa yg dilakukan (2). Proses pembelajaran yang dilakukan dalam kelas merupakan aktivitas mentranformasikan pengetahuan, sikap, dan keterampilan (1).Untuk melihat prinsip aktivitas belajar dari sudut pandang ilmu jiwa secara garis besar dibagi menjadi dua pandangan yakni ilmu jiwa lama dan ilmu jiwa modern. (9)

1.                  Menurut Pandangan Ilmu Jiwa Lama
            John locke dengan konsepnya tabularasa, mengibaratkan jiwa (psyche) seseorang bagaikan kertas putih yang tidak bertulis. Kertas putih ini kemudian akan mendapatkan coretan atau tulisan dari luar. Terserah kepada unsur dari luar yang akan menulis, mau ditulis merah atau hijau, kertas itu akan bersifat reseptif. Konsep semacam ini kemudian ditransfer ke dalam dunia pendidikan.
            Herbert memberikan rumusan bahwa jiwa adalah keseluruhan tanggapan yang secara mekanisme dikuasai oleh hukum-hukum asosiasi. Atau dengan kata lain diperolehi oleh unsur- unsur dari luar. Relevansinya dengan konsep john locke, bahwa guru pulalah yang aktif, yakni menyampaikan tanggapan- tanggapan itu. Siswa dalam hal ini pasif, secara mekanisme hanya menuruti alur dari hukum- hukum asosiasi tadi. Jadi siswa kurang memiliki aktivitas dan kreativitas (9).
2.                  Menurut Pandangan Ilmu Jiwa Modern
            Aliran ilmu jiwa modern akan menejemahkan jiwa manusia sebagai suatu yang dinamis, memiliki potensi dan energi sendiri. Oleh karena itu, secara alami anak didik itu juga bisa menjadi aktif, karena adanya motivasi dan didorong oleh bermacam-macam kebutuhan. Anak didik dipandang sebagai organisme yang mempunyai potensi untuk berkembang. Oleh karena itu, tugas pendidik adalah pembimbing dan menyediakan kondisi agar anak didik dapat mengembangkan bakat dan potensinya. Dalam hal ini, anaklah yang beraktivitas, berbuat dan harus aktif sendiri. (9)
            Seorang pengajar tidak dapat dengan serta-merta menuangkan sesuatu ke dalam benak para siswanya, karena mereka sendirilah yang harus emnata apa yang mereka dengar dan lihat menjadi sautu kesatuan yang bermakna. Tanpa peluang untuk mendiskusiaknnya, mengajukan pertanyaan, mempraktikan, dan barang kali bahkan mengajarkannya kepada siswa yang lain, proses balajar yang sesuguhnya tidak akan terjadi (6).
            Aktivitas belajar itu adalah aktivitas yang bersifat fisik maupun mental. Dalam kegiatan belajar ke dua aktivitas itu harus selalu berkaitan. Dengan demikain, jelas bahwa aktivitas itu dalam arti luas, baik yang bersifat fisik/jasmani maupun mental/rohani. Kaitan antara keduanya akan membuahkan aktivitas belajar yang optimal. (9)
2.3.4        Jenis-Jenis Aktivitas Dalam Belajar
            Sekolah adalah salah satu pusat kegiatan belajar. Dengan demikian, di sekolah merupakan arena untuk mengembangkan aktivitas. Banyak jenis aktivitas yang dapat dilakukan oleh pelajar didalam sekolah. Aktivitas siswa tidak cukup hanya mendegarkan dan mencatat seperti yang lazim terdapat disekolah-sekolah tradisional (9).
            Berbagai kegiatan pembelajaran yang dilakukan dalam kelas meliputi 9 aspek untuk menumbuhkan aktivitas masing-masing diantaranya:
1.      Memberikan motivasi atau menarik perhatian siswa, sehingga mereka berperan aktif dalam kegiatan pembelajaran.
2.      Menjelaskan tujuan instruksional (kemampuan dasar) kepada siswa.
3.      Mengingatkan kompetensi prasyarat.
4.      Memberikan stimulus ( masalah, topik, dan konsep) yang kan dipelajari.
5.      Memeberikan petunjuk kepada siswa cara mempelajarinya.
6.      Memunculkan aktivitas, partisipasi siswa dalam kegiatan pemebelajaran.
7.      Memberikan umpan balik (feed back)
8.      Melakukan tagihan – tagihan terhadap siswa berupa tes, sehingga kemampuan siswa selalu terpantau dan terukur.
9.      Menyimpulkan setiap materi yang disampaikan diakhiri pembelajaran. (1)
Beragam aktivitas dan partisispasi dalam proses pembelajaran yang dapat dilakukan, diantaranya ialah:
            Menurut Paul D. Dierich yang membagi kegiatan belajar dalam delapan kelompok, masing – masing adalah :
a.       Kegiatan-kegiatan visual (Visual activities)
Membaca, melihat gambar-gambar, mengamati eksperimen, demontrasi, pameran, dan mengamati orang lain bekerja atau bermain.
b.      Kegiatan-kegiatan lisan (Oral activities)
c.       Mengemukakan suatu fakta atau prinsip, menghubungkan suatu tujuan,mengajukan suatu pertanyaan, memberikan saran, mengemukakan pendapat, wawancara, diskusi, dan instrupsi.
d.      Kegiatan-kegiatan mendegar (Listening activities)
e.       Mendengarkan penyajian bahan, medengarkan percakapan atau diskusi kelompok, mendengarkan suatu permainan, mendengarkan radio.


f.       Kegiatan-kegiatan menulis (Writing activites)
Menulis cerita, menulis laporan, memeriksa karangan, bahan-bahan kopi, membuat rangkuman, mengerjakan tes, dan mengisi angket.
g.      Kegiatan-kegiatan mengambar (Darwing activities)
Mengambar, membuat grafik, chart,diagram peta dan pola.
h.      Kegiatan metrik (Motor activities)
Melakukan percobaan, memilih alat-alat, melaksanakan pemeran, menari dan berkebun.
i.        Kegiatan-kegiatan mental (Mental activities)
Merenungkan, mengingatkan, menganalisis faktor-faktor, memecahkan masalah, melihat hubungan-hubungan, dan membuat keputusan.
j.        Kegiatan-kegiatan emosional (Emotional activities)
Minat, membedakan, berani, tenang, dan lain – lain. Kegiatan – kegiatan dalam kelompok ini terdapat dalam semua jenis kegiatan overlap satu sama lain. (1)
            Jadi dengan uraian diatas, menunjukan bahwa aktivitas di sekolah cukup kompleks dan bervariasi. Kalau berbagai macam kegiatan tersebut dapat diciptakan disekolah, tentunya sekolah-sekolah akan lebih dinamis, tidak membosankan dan benar-benar menjadi pusat aktivitas belajar yang maksimal dan bahkan akan memperlancar peranannya sebagai pusat dan trasformasi kebudayaan. Tetapi sebaliknya ini semua merupakan tantangan yang menuntut jawaban dari para tenaga pengajar. Kreativitas guru mutlak diperlukan agar dapat merencanakan kegiatan siswa yang sangat bervariasi. (9)

2.4. Motivasi
                        Motivasi adalah kekuatan,baik dari dalam maupun dari luar yang mendorong seseorang untuk mencapai tujuan tertentu yang telah ditetapkan sebelumnya  atau dengan kata lain, motivasi dapat diartikan sebagai dorongan mental terhadap perorangan atau orang-orang sebagai anggota masyarakat. Motivasi juga dapat diartikan sebagai proses untuk mencoba memengaruhi orang atau orang-orang yang dipimpinnya agar melakukan pekerjaan yang diinginkan, sesuai dengan tujuan tertentu yang ditetapkan lebih dahulu (8).
                        Dalam proses belajar, motivasi sangat diperlukan, sebab seseorang yang tidak mempunyai moativasi dalam belajar,tak akan mungkin melakukan aktivitas belajar. Hal ini merupakan pertanda bahwa sesuatu yang akan dikerjakan itu tidak menyentuh kebutuhannya. Segala sesuatu yang menarik minat orang lain belum tentu menarik minat orang tertentu selama sesuatu itu tidak bersentuhan dengan kebutuhannya. Masloy sangat percaya bahwa tingkat laku manusia dibandingkan dan diarahkan oleh kebutuhan-kebutuhan tertentu, seperti kebutuhan fisiologis, rasa aman, rasa cinta, rasa penghargaan, aktualisasi diri, mengetahui dan mengerti, dan kebutuhan estetik. Kebutuhan-kebutuhan inilah yang mampu memotivasi tingkah laku individu. Oleh karena itu, apa yang seseorang lihat sudah tentu akan membangkitkaan minatnya sejauh apa yang ia lihat itu mempunyai hubungan dengan kepentingannya sendiri. (5)
                        Seseorang yang melakukan aktivitas belajar secara terus menerus tanpa motivasi dari luar dirinya merupakan motivasi intrinsik yang sangat penting dalam aktivitas belajar. Namun, seseorang yang tidak mempunyai keinginan untuk belajar, dorongan dari lua dirinya merupakan motivasi ekstrinsik yang diharapkan. Oleh karena itu, motivasi ekstrinsik diperlukan bila motivasi intriks tidak ada dalam diri seseorang sebagai subjek belajar. (5)
                        Menurut Mc. Donald, motivasi adalah perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan munculnya, feeling dan didahului dengan tanggapan terhadap adanya tujuan. Dari pengertian yang dikemukakan menurut Mc. Donald ini mengandung elemen penting.
1.      Bahwa motivasi itu mengawali terjadinya perubahan energi pada diri setiap individu manusia perkembangan motivasi akan membawa beberapa perubahan energi didalam sistem yang ada pada organisme manusia. Karena menyangkut perubahan energi manusia,penampakannya akan menyangkut kegiatan fisik manusia.
2.      Motivasi ditandai dengan munculnya, rasa feeling, afeksi seseorang. Dalam hal ini motivasi relevan dengan persoalan-persoalan kejiwaan, afeksi dalam emosi yang dapat menentukan tingkah laku manusia.
3.      Motivasi akan dirangsang karena adanya tujuan. Jadi motivasi dalam hal ini sebenarnya meerupakan respons dari suatu aksi, yaitu tujuan. Motivasi memang muncul dari dlam diri manusia, tetapi kemunsulannya karena terangsang/terdorong oleh adanya unsur lain, dalam hal ini tujuan. Tujuan ini akan menyangkut soal kebutuhan.
            Dengan ketiga elemem di atas, maka dapat dikatakan bahwa motivasi itu sebagai sesuatu yang kompleks. Motivasi akan menyebabkan terjadinya perubahan energi yang ada pada diri manusia, sehingga akan bergayut dengan persoalan gejala kejiwaan, perasaan dan emosi, untuk kemudian bertindak atau melakukan sesuatu, semua ini didorong karena adanya tujuan, kebutuhan atau keinginan (9).
2.4.1.   Prinsip – Prinsip Motivasi Belajar
            Aktivitas belajar bukanlah suatu kegiatan yang dilakukan yang terlepas dari faktor lain. Aktivitas belajar merupakan kegiatan yang melibatkan unsur jiwa dan raga. Belajar tak akan pernah dilakukan tanpa suatu dorongan yang kuat baik dari dalam yang lebih utama maupun dari luar sebagai upaya lain yang tak kalah pentingnya.
            Faktor lain yang mempengaruhi aktivitas belajar seseorang itu dalam pembahasan ini disebut motivasi. Motivasi adalah gejala psikologis dalam bentuk dorogan yang timbul pada diri seseorang sadar atau tidak sadar untuk melakukan suatu tindakan dengan tujuan tertentu. Motivasi juga bisa dalam bentuk usaha-usaha yang dapat menyebabkan seseorang atau kelompok orang tertentu tergerak melakukan sesuatu kerena ingin mencapai tujuan yang dikehendakinya atau mendapat kepuasan dengan perbuatan.
            Motivasi mempunya peranan yang strategis dalam aktivitas belajar seseorang. Tidak ada pun yang belajar tanpa motivasi. Tidak ada motivasi berarti tidak ada kegiatan belajar. Agar peran motivas lebih oktimal, maka prinsip-prinsip motivasi dalam belajar tidak hanya sekedar diketahui, tetapi harus diterangkan dalam aktivitas belajar mengajar. Ada beberapa prinsip motivasi dalam belajar seperti dalam uraian berikut :

1.                  Motivasi sebagai dasar pergerak yang mendorong aktivitas belajar
Seseorang melakukan aktivitas melajar karena ada yang ingin mendorongnya. Motivasi sebagi dasar pergerakannya yang mendorong seseorang untuk belajar. Seseorang yang berminat untuk belajar belum sampai pada tataran motivasi belum menunjukan kativitas nyata. Minat merupakan kecenderungan psikologis yang menyenangi suatu objek, belum sampai melakukan kegiatan. Namun, minat adalah alat motivasi dalam belajar. Minat merupakan potensi psikologi yang dpat dimanfaatkan untuk mengawali motivasi. Bila seseorang sudah termotivasi untuk belajar, maka dia akan melakukan aktivitas belajar dalam rentagan waktu tertentu. Oleh karena itulah, motivasi diakui sebagai dasar pergerak yang mendorong aktivitas belajar seseorang.
2.                  Motivasi intrinsik lebih utama daripada motivasi ekstrinsik dalam belajar
            Efek yang tidak diharapkan dari pemberian motivasi ekstrinsik adalah kecenderugan ketergantugan anak didik terhadap segala sesuatu di luar dirinya. Selain kurang percaya diri, anak didik juga bermental pengharapan dan mudah terpengaruh. Motivasi intrinsik lebih utama dalam belajar. Anak didik yang belajar berdasarkan motivasi intrinsik sangat sedikit perpengaruh dari luar. Semangat belajar sangat kuat. Tanpa diberikannya janji-janji yang muluk-muluk pun anak didik rajin belajar sendiri.


3.                  Motivasi berupa pujian lebih baik dari pada hukuman
            Berbeda dengan pujian, hukuman diberikan kepada anak didik dengan tujaan untuk memberhentikan perilaku yang negatif anak didik. Frekuensi kesalahan diharapkan lebih diperkecil setelah kepada anak didik diberi sanksi berupa hukuman. Hukuman badan seperti yang sering diberlakukan dalam pendidikan .
4.                  Motivasi berhubungan erat dengan kebutuhan dalam belajar
            Kebutuhan yang tak bisa dihindarkan oleh anak didik adalah keinginannya untuk menguasai sejumlah ilmu pengetahuan. Oleh karena itulah anak didik belajar.karena bila tidak belajar berati anak didik tidak akan mendapatkan ilmu pengetahuan.
5.                  Motivasi dapat memupuk optimisme dalam belajar
Anak didik yang mempunyai motivasi dalm belajar selalu yakin dapat menyelesaikan setiap pekerjaan yang dilakukan. Dia yakin bahwa belajar bukanlah kegiatan yang sia-sia. Hasilnya pasti akan berguna tidak hanya kini, tetapi juga di hari-hari mendatang.
6.                  Motivasi melahirkan prestasi dalam belajar
            Dari berbagai hasil penelitian selalu menyimpulakan bahwa motivasi mempengaruhi hasil belajar. Tinggi rendahnya motivasi selalu dijadikan indikator baik buruknya prestasi belajar seseorang anak didiknya. Anak didik menyenangi mata pelajaran tertenti dengan senang hati mempelajari mata pelajaran itu.

2.4.2. Fungsi Motivasi Dalam Belajar
            Dalam kegiatan belajar mengajar pasti ditemukan yang malas berpartisipasi dalam belajar. Sementara yang lain aktif berpartisipasi dalam kegiatan belajar. Ketidak minat terhdap suatu mata pelajaran menjadi pangkal penyebab kenapa tidak bergemilang dalam mencatat apa- apa yang telah disampaikan oleh pengajar. Itulah sebagai pertanda bahwa masih ada yang tidak memiliki motivasi untuk belajar. Kemiskinan motivasi intrinsik ini merupakan masalah yang memerlukan bantuan yang tidak bisa ditunda – tunda. Tenaga pengajar harus memberikan suntikan dalam bentuk motivasi ekstrinsik. Sehingga dengan bantuan itu anak didik dapat keluar dari kesulitan belajar.
            Bila motivasi ekstrinsik yang diberikan dapat membantu anak didik keluar dari lingkaran masalah kesulitan belajar. Maka motivasi dapat diperankan baik oleh tenaga pengajar. Peran yang diberikan oleh tenaga pengajar dengan mengandalkan fungsi-fungsi motivasi merupakan langkah yang akurat untuk menciptakan iklim belajar yang kondusif bagi mahasiswa.
            Baik motivasi intrinsik maupun motivasi ekstrinsik sama berfungsi sebagai pendorong, penggerak, dan penyeleksi perbuatan. Ketiganya menyatu dalam sikap terimplikasi dalam perbuatan. Dorongan adalah fenomena psikologis dari dalam yang melahirkan hasrat untuk bergerak dalam menyeleksi perbuatan yang akan dilakukan. Karena itulah baik dorogan atau penggerak maupun penyeleksi merupakan kata kunci dari motivasi dalam setiap pembuatan dalam belajar. Untuk jelasnya ketiga fungsinya motivasi dalam belajar tersebuat di atas, akan diuraikan dalam pembahasan sebagai berikut:
1.      Motivasi sebagai pendorong perbuatan
Pada mulanya pelajar tidak ada hasrat untuk belajar, tetapi karena ada sesuatu yang dicari muncullah minat untuk belajar. Sesuatu yang akan dicari itu dalam rangka untuk memuaskan rasa ingin tahunya dari sesuatu yang akan dipelajarinya.
2.      Motivasi sebagai penggerak perbuatan
Dorongan psikologis yang melahirkan sikap terhadap anak didik itu merupakan suatu kekuatan yang tak terbendung, yang kemudian terjelma dalam bentuk gerakan psikofisik. Di sini anak didik sudah melakukan aktivitas belajar dengan sikap raga yang cenderung tunduk dengan kehendak perbuatan belajar. Sikap berada dalam kepastian perbuatan dan akal pikiran mencoba membedakan nilai yang terpatri dalam wawancara, prinsip, dalil, dan hukum, sehingga mengerti betul isi yang dikandungnya.
3.      Motivasi sebagai pengarah perbuatan
Motivasi dapat menyeleksi mana perbuatan yang harus dilakukan dan mana perbuatan yang diabaikan. Seseorang yang ingin mendapatkan sesuatu dari suatu mata pelajaran tertentu, tidak mungkin dipaksakan untuk mempelajari mata pelajaran yang lain. Pasti anak didik akan mempelajari mata pelajaran di mana tersimpan sesuatu yang akan dicari itu. Sesuatu yang akan dicari anak didik merupakan tujuan belajar yang akan dicapainya. Tujuan belajar itulah sebagai pengarah yang meberikan motivasi kepada anak didik dalam belajar. Dengan tekun anak didik belajar. Dengan penuh konsentrasi anak didik belajar agar tujuannya mencari sesuatu yang ingin diketahuinya/dimengerti itu cepat tercapai. Segala sesuatu yang menggangu pikirannya dan dapat membuyarkan konsentrasinya diusahakan disingkirkan jauh-jauh. Itulah peranan motivasi yang dapat mengarahkan perbuatan anak didik dalam belajar.
2.4.3.   Kebutuhan dan Teori Tentang Motivasi
            Apa dorongan seseorang melakukan aktivitas suatu aktivitas? Pertanyan ini cukup mendasarkan untuk mengkaji soal teori tentang motivasi. Dari pertanyaan itu kemungkinan memunculkan jawaban dengan adanya “biogenic theories” dan “sosiogenic theories”. “Biogenis theories” yang menyangkut proses biologis lebih menekankan pada mekanisme pembawa biologis, seperti insting dan kebutuhan-kebutuhan biologis. Sedangkan “sosiogenic theories” lebih menekankan adanya pengaruh kebudayaan/kehidupan masyarakat. Dari ke dua pandangan itu dalam perkembangan akan menyangkut persoalan-persoalan insting, fisiologis, psikologis dan pola-pola kebudayaan. Hal ini menunjukan bahwa seseorang melakukan aktivitas karena didorog oleh adanya faktor-faktor, kebutuhan biologis, insting, dan mungkin unsur-unsur kejiwaan yang lain serta adanya pengaruh perkembangan budaya manusia.
            Memberikan motivasi kepada seseorang siswa, berarti menggerakkan siswa untuk melakukan sesuatu atau ingin melakukan sesuatu. Pada tahap awalnya akan menyebabkan si subjek belajar merasa ada kebutuhan dan ingin melakukan sesuatu kegiatan belajar.
            Seperti telah diterangkan di muka bahwa seseorang melakukan aktivitas itu didorong oleh adanya faktor-faktor kebutuhan biologis, insting, unsur-unsur kejiwaan yang lain serta adanya pengaruh perkembangan budaya manusia. Sebenarnya semua faktor-faktor itu tidak dapat dipisahkan dari soal kebutuhan, kebutuhan dalam arti luas. baik kebutuhan yang bersifat biologis maupun psikologis. Dengan demikan, dapat ditegaskan bahwa motivasi, akan selalu berkaitan dengan soal kebutuhan. Kebutuhan ini timbul karena adanya keadaan yang seimbang, tidak serasi atau rasa ketegangan yang menuntut suatu kepuasan. Hal ini menunjukan bahwa kebutuhan manusia bersifat dinamis, berubah-ubah sesuai dengan sifat kehidupan manusia itu sendiri. Sesuatu yang menarik, diinginkan dan dibutuhkannya pada suatu saat tertentu, mungkin di saat lain tidak lagi menarik dan tidak dihiraukan lagi.
            Menurut Morgan dan ditulis kembali S. Nasution, manusia hidup dengan memiliki berbagai kebutuhan.
1.      Kebutuhan untuk berbuat sesuatu untuk sesuatu aktivitas
Hal ini sangat penting bagi anak, karena perbuatan sendiri itu mengandung suatu kegembiraan baginya. Sesuai dengan konsep ini, bagi orang tua yang memaksa anak untuk diam di rumah saja adalah bertentangan dengan hakikat anak. Activities in it self is a pleasure. Hal ini dapat dihubungkan dengan suatu kegiatan belajar bahwa pekerjaan atau belajar itu akan berhasil kalu disertai dengan rasa gembira.
2.      Kebutuhan untuk menyenangkan orang lain
Banyak orang yang dalam kehidupannya memiliki motivasi untuk banyak berbuat sesuatu demi kesenangan orang lain. Harga diri seseorang dapat dinilai dari berhasil tidaknya usaha memberikan kesenangan pada orang lain. Hal ini sudah barang tentu merupakan kepuasan dan kebahagian tersendiri bagi orang yang melakukan kegiatan tersebut. Konsep ini dapat diterapkan pada berbagai kegiatan.
3.      Kebutuhan untuk mencapai hasil
Suatu  pekerjaan atau kegiatan belajar itu akan berhasil baik, kalau disertai dengan “ pujian”. Aspek “ pujian” ini merupakan dorongan bagi seseorang untuk bekerja dan belajar dengan giat. Dalam kegiatan belajar – mengajar, pekerjaan atau kegiatan itu harus dimulai dari yang mudah / sederhana dan bertahap menuju sesuatu yang semakin sulit/kompleks.
4.      Kebutuhan untuk mengatasi kesulitan
Suatu kesulitan atau hambatan, mungkin cacat, mungkin menimbulkan rasa rendah diri, tetapi hal ini menjadi dorongan untuk mencari kompesasi dengan usaha yang tekun dan luar biasa, sehingga tercapai kelebihan/keunggulan dalam bidang tertentu.
            Kebutuhan manusia seperti telah dijelaskan di atas senangtiasa akan selalu berubah. Begitu juga motif, motivasi yang selalu berkaitan dengan kebutuhan tentu akan berubah – ubah atau bersifat dinamis, sesuia dengan keinginan dan perhatian manusia. Relevan dengan soal kebutuhan itu maka timbullah teori tentang motivasi.
            Teori tentang motivasi ini lahir dan awal perkembangannya ada dikalangan para psikolog. Menurut ahli jiwa, dijelaskan bahwa dalam motivasi itu ada suatu hierarki, maksudnya motivasi itu ada tingkatan – tingkatannya, yakni dari bawah ke atas. Dalam hal ini ada beberapa teori tentang motivasi yang selalu bergayut dengan soal kebutuhan, yaitu:
a.       Kebutuhan fisiologis, seperti lapar, haus, kebutuhan untuk istirahat, dan sebagainya;
b.      Kebutuhan akan keamanan ( security), yakni rasa aman, bebas dari rasa takut dan kecemasan;
c.       Kebutuhan akan cinta dan kasih; kasih, rasa diterima dalam suatu masyarakat atau golongan( keluarga, sekolah, kelompok)
d.      Kebutuhan untuk mewujudkan diri sendiri, yakni mengembangkan bakat dengan usaha mencapai hasil dalam bidang pengetahuan, sosial, pembentukan pribadi.
            Dengan istilah lain, kebutuhan untuk berusaha ke arah kemandirian dan aktualisasi diri. Disampaing itu ada teori – teori lain yang perlu diketahui:
1.      Teori insting
Menurut teori ini tindakan setiap diri manusia diasumsikan seperti tingkah jenis binatang. Tindakan manusia itu dikatakan selalu berkaitan dengan insting atau pembawaan. Dalam memberikan respon terhadap adanya kebutuhan seolah – olah tanpa dipelajari. Tokoh dari teori ini adalah Mc.Dougall.
2.      Teori fisiologis
Teori ini juga disebutkanya “ behavior theories”. Menurut teori ini semua tindakan manusia itu berakar pada usaha memenuhi kepuasan dan kebutuhan organik atau kebutuhan untuk kepentingan fisik. Atau disebut sebagai kebutuhan primer, seperti kebutuhan tentang makanan, minuman, udara dan lain – lain yang diperlukan untuk kepentingan tubuh seseorang. Dari teori inilah muncul perjuangan hidup, perjuangan untuk mempertahankan hidup, struggle for survival.
3.      Teori psikoanalitik
Teori ini mirip dengan teori insting, tetapi lebih ditekankan pada unsur – unsur kejiwaan yang ada pada diri manusia. Bahwa setiap tindakan manusia karena adanya unsur pribadi manusia yakni id dan ego. Tokoh dari teori ini adalah Freud.
            Selanjutnya untuk melengkapi uraian mengenai makna dan teori tentang motivasi itu, perlu dikemukakan adanya beberapa ciri motivasi. Motivasi yang ada pada diri setiap orang itu memiliki ciri – ciri sebagai berikut:
a.       Tekun manghadapi tugas
b.      Ulet menghadapi kesulitan
c.       Menunjukan minat terhadap bermacam – macam masalah
d.      Lebih senang bekerja mandiri
e.       Cepat bosan pada tugas – tugas rutin
f.       Dapat mempertahankan pendapatnya
g.      Tidak mudah melepaskan hal yang diyakini itu
h.      Senang mencari dan memecahkan masalah soal – soal.
            Apabila seseorang memiliki ciri-ciri seperti diatas, berarti orang itu selalu memiliki motivasi yang cukup kuat. Ciri-ciri motivasi seperti itu akan sangat penting dalam kegiatan belajar-mengajar. Dalam kegiatan belajar-mengajar  akan hasil baik, kalau siswa tekun mengerjakan tugas, ulet dalam memecahkan masalah dan hambatan secara mandiri. Hal-hal itu semua harus dipahami benar oleh tenaga pengajar, agar dalam berinteraksi dengan siswanya dapat memberikan motivasi yang tepat dan optimal.
2.4.4.   Macam-macam motivasi
            Berbicara tentang macam atau jenis motivasi ini dapat dilihat dari bebagai sudut pandang. Dengan demikain, motivasi atau motif – motif yang aktif ini sangat bervariasi.
1.      Motivasi dilihat dari dasar pembentukannya
a.      Motif-motif bawaan
Yang dimaksud dengan motif bawaan adalah motif yang dibawa sejak lahir, jadi motivasi itu ada tanpa dipelajari. Sebagai contoh misalnya; dorongan untuk makan, dorogan untuk minum, dorogan untuk bekerja,dll. Motif – motif ini sering kali disebut motif – motif yang disyaratkan secara biologis. Relevan dengan ini, maka Arden N. Frandsen memberikan istilah jenis motif physiological drives
b.     Motif-motif yang dipelajari
Maksudnya motif- motif yang timbul karena dipelajari. Sebagai contoh; dorongan untuk belajar suatu cabang ilmu pengetahuan. Motif-motif ini sering kali disebut dengan motif-motif yang diisyaratkan secara sosial. Sehingga motivasi itu terbentuk frandsen mengistilahkan dengan affiliative needs.



            Disamping itu Frandsen, masih menambahkan jenis-jenis motif berikut ini:
a.      Cognitive motives
Motif ini menunjukan gejala intrinsik, yakni menyangkut kepuasan individual. Yang berada di dalam diri manusia dan biasanya berwujud proses dan produk mental. Jenis motif ini adalah sangat primer dalam kegiatan belajar di sekolah, terutama yang berkaitan dengan perkembangan intelektual.
b.      Self-expression
Penampilan diri adalah sebagian dari prilaku manusia. Yang penting kebutuhan individual itu tidak sekedar tahu mengapa dan bagaimana sesuatu terjadi, tetapi juga mampu membuat suatu kejadian.
c.       Self-enhancement
Melalui aktualisasi diri dan perkembangan kompetensi akan meningkatkan kemampuan diri seseorang. Ketinggian dan kemajuan diri ini menjadi salah satu keinginan bagi setiap individu. Dalam belajar dapat diciptakan suasana kompetensi yang sehat bagi anak didik untuk mencapa suatu prestasi.

2.      Jenis motivasi menurut pembagian dari Woodworth dan Marquis
a.      Motif atau kebutuhan organis, meliputi misalnya kebutuhan untuk minum, makan, bernapas, seksual, beristirahat. Ini sesuai dengan jenis drives dari Frandsen.
b.      Motif – motif darurat. Yang termaksud dalam motif ini, dorongan untuk menyelamatkan diri, dorongan untuk membalas. Jelasnya motivasi ini timbul karena rangsangan dari luar.
c.      Motif – motif objektif. Dalam hal ini menyangkut kebutuhan untuk melakukan eksplorasi, motif – motif ini muncul karena dorogan dari dunia luar secara efektif.
3.      Motivasi jasmaniah dan rohaniah
Ada beberapa ahli yang menggolongkan jenis motivasi itu menjadi dua jenis motivasi jasmani dan motivasi rohaniah, yang termaksud motivasi jasmani adalah refleks, insting otomatis, nafsu. Sedangkan yang termaksud motivasi rohaniah adalah kemauan.
4.      Motivasi intrinsik dan ekstrinsik
a.      Motivasi Intrinsik
            Yang dimaksud motivasi intrinsik adalah motif – motif yang menjad aktif atau berfungsinya tidak perlu dirangsang dari luar, karena dalam diri setiap individual sudah ada dorogan untuk melakukan sesuatu. Sebagai contoh seseorang yang senang mambaca, tidak usah ada yang menyuruh atau mendorongnya, ia sudah rajin mencari buku – buku untuk dibacanya. Kemudian kalau dilihat dari segi tujuan kegiatan yang dilakukan ( misalnya kegiatan belajar), maka yang dimaksud dengan motivasi intrinsik ini adalah ingin mencapai tujuan yang terkandung di dalam perbuatan belajar itu sendiri. Sebagai contoh konkret, seorang siswa itu melakukan belajar, karena betul – betul ingin mendapatkan pengetahuan, nilai atau keterampilan agar dapat berubah tingkah lakunya secara konstruktif, tidak karena tujuan yang lain – lain. Itulah sebabnya motivasi yang di dalamnya aktivitas belajar dimulai dan diteruskan berdasarkan suatu dorongan dari dalam diri dan secara mutlak berkait dengan aktivitas belajarnya. Seperti tadi dicontohkan bahwa seseorang belajar, memang benar – benar ingin mengetahui segala sesuatunya, bukan karena ingin pujian atau ganjaran.
Perlu diketahui bahwa siswa yang memiliki motivasi intriksik akan memiliki tujuan menjadi orang yang terdidik, yang berpengetahuan, yang ahli dalam bidang studi tertentu. Satu – satunya jalan untuk menuju ke tujuan yang ingin dicapai ialah belajar, tanpa belajar tidak mungkin tidak dapat pengetahuan, tidak mungkin menjadi ahli. Dorongan yang menggerakkan itu bersumber pada suatu kebutuhan, kebutuhan yang berisikan pengetahuan. Jadi memang motivasi itu muncul dari kesadaran diri sendiri dengan tujuan secara esensial, bukan sekedar simbol dan seremonial. Pada intinya motivasi intrinsik adalah dorongan untuk mencapai suatu tujuan yang dapat dilalui dengan satu – satu jalan adalah belajar, dorongan belajar itu tumbuh dari dalam diri subjek belajar.
b.      Motivasi Ekstrinsik
            Motivasi ekstrinsik adalah motif – motif yang aktif dan berfungsinya karena adanya perangsang dari luar. Jadi kalau dilihat dari segi tujuan kegiatan yang dilakukan, itu secara tidak langsung bergayut dengan esensi apa yang dilakukan itu. Oleh karena itu, motivasi ekstrinsik dapat juga dikatakan sebagai bentuk motivasi yang didalamnya aktivitasnya belajar yang dimulai dan diterusakan berdasarkan dorongan dari luar yang tidak secara mutlak berkaitan dengan aktivitas belajar. Jadi kalau dilihat dari segi tujuan kegiatan yang dilakukannya, tidak secara langsung bergayut dengan esensi apa yang dilakukannya itu. Oleh karena itu, motivasi ekstrinsik dapat juga dikatakan sebagai bentuk motivasi yang di dalamnya aktivitas belajar dimulai dan diteruskan berdasarkan dorongan dari luar yang tidak secara mutlak berkaitan dengan aktivitas belajar. Perlu ditegaskan, bukan berarti bahwa motivasi ekstrinsik ini tidak baik dan tidak penting. Dalam kegiatan belajar – mengajar tetap penting. Sebab kemungkinan besar keadaan siswa itu dinamis, berubah – ubah, dan juga mungkin komponen – komponen lain dalam proses belajar- mengajar ada yang kurang menarik bagi siswa, sehingga diperlukan motivasi ekstrinsik.
            Beberapa bentuk motivasi belajar ekstrinsik diantaranya adalah :
1.      Belajar demi memenuhi kewajiban
2.      Belajar demi menghindari hukuman yang diancamkan
3.      Belajar demi memperoleh hadiah material yang disajikan
4.      Belajar demi meningkatkan gengsi
5.      Belajar demi memperoleh pujian dari orang yang penting seperti orang tua dan guru
6.      Belajar demi tuntutan jabatan yang ingin dipegang atau demi memenuhi persyaratan kenaikan pangkat/golongan administratif.
2.5. Hipotesa
            Berdasarkan latar belakang diatas, maka dapat dikemukakan hipotesa penelitian yaitu:
Ha:      Ada hubungan pengaruh motivasi dan aktivitas belajar terhadap hasil belajar mahasiswa di Akademi kebidanan Kesehatan Baru Doloksanggul tahun 2014

 

x
x

x
x




Tidak ada komentar: