Kamis, 13 November 2014

MAKALAH SOSIOLOGI KEBIDANAN




 

MAKALAH SOSIOLOGI KEBIDANAN

 BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Menurut Herakleitos, seorang filsuf yang berasal dari Yunani, ruang dan waktu adalah bingkai, di dalamnya seluruh realitas kehidupan kita hadapi. Kita tidak bisa mengerti benda-benda nyata apapun tanpa meletakkannya pada bingkai ruang waktu.Lingkungan kita terbatas dan ruang itu ternyata penuh dengan hal-hal abstrak dan konkrit yang ditemui dan dialami oleh manusia. Disamping hal tersebut, ada juga unsur dan wujud yang diwarisi serta dipelajari dari nenek moyang.
 Peradaban selalu dinamis dan mudah bereaksi terhadap kegiatan yang ada dilingkungan pada waktu tertentu. Kelompok manusia atau masyarakat dan individu pribadi menginterpretasikan suatu peristiwa berbeda dengan kelompok atau individu yang berlatar belakang lain atau yang berpola pikir berbeda. Maksudnya, kita hidup dalam suatu lingkungan yang membentuk sikap individu, kebudayaan masyarakat, dan lingkungan alam. Pada saat seseorang lahir di dunia, dia memiliki kesempatan memilih ribuan jalan kehidupan. Namun pada akhirnya dia hanya bisa memilih satu jalan hidup saja. Pengalaman hidup manusia adalah sumber utama dalam filsafat manusia. Menurut Comte, filsuf modern: “Kondisi-kondisi sosial ternyata memodifikasi bekerjanya hukum-hukum fisiologis, maka fisika sosial harus menyelenggarakan observasi-observasinya sendiri”.
Pembangunan kesehatan di Indonesia dewasa masih diwarnai oleh rawannya derajat kesehatan ibu dan anak, terutama pada kelompok yang paling rentan yaitu ibu hamil, ibu bersalin dan nifas, serta bayi pada masa perinatal, yang ditandai dengan masih tingginya Angka Kematian Ibu ( AKI ) dan Angka Kematian Perinatal ( AKP ).
Salah satu upaya yang mempunyai dampak relatif cepat terhadap penurunan AKI dan AKP adalah dengan penyediaan pelayanan kebidanan berkualitas yang dekat dengan masyarakat dan didukung dengan peningkatan jangkauan dan kualitas pelayanan rujukan.Dengan demikian dapat dikatakan bahwa bidan mempunyai peran besar dalam memberikan pelayanan kesehatan ibu dan anak di masyarakat.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Ilmu Sosial dan Budaya
Budaya adalah keyakinan dan perilaku yang diaturkan atau diajarkan manusia kepada generasi berikutnya (taylor 1989), sedangkan menurut Sir Eduarel Taylor (1871) dalam Andrew dan Boyle (1995), budaya adalah sesuatu yang kompleks yang mengandung pengetahuan, keyakinan, seni, moral, hukum, kebiasaan dan kecakapan lain yang merupakan kebiasaan manusia sebagai anggota komunikasi setempat. Menurut pandangan antopologi tradisional, budaya dibagi menjadi dua yaitu :
  1. Budaya material
 Dapat berupa objek, seperti makanan, pakaian, seni dan benda - benda kepercayaan (jimat).
  1. Budaya non material
Yang mencakup kepercayaan, kebiasaan, bahasa dan intitusi sosial .
Menurut konsep budaya lainingen (1978, 1984) karakteristik budaya dapat digambarkan sebagai berikut :
1)      Budaya adalah pengalaman yang bersifat univerbal sehingga tidak ada dua budaya yang sama persis.
2)      Budaya bersifat stabil, tetapi juga dinamis karena budaya tersebut diturunkan kepada generasi berikutnya sehingga mengalami perubahan.
3)      Budaya diisi dan ditentukan oleh kehidupan manusia sendiri tanpa disadari.
Menurut Leininger (1991), terdapat 2 jenis budaya, yaitu :
1)      Budaya yang diturunkan oleh orang tuanya yang disebut ETNO CARING.
2)      Budaya yang dipelajari melalui kegiatan formal yang disebut PROFFESIONALCARING
Nilai adalah gambaran mengenai apa yang diinginkan yang pantas , berharga yang mempengaruhi prilaku sosial dari orang yang memiliki nilai itu .
 Nilai itu erat hubungannya dengan kehidupan dan masyarakat, karena setiap masyarakat atau setiap kehidupan memiliki nilai-nilai tertentu .
Menurut Koenijaraningrat ada 5 masalah pokok dimana semua sistem nilai dari semua kebudayaan di dunia ini berhubungan dengan masalah-masalah yaitu : :
a.       Hakikat hidup. 
b.      Hakikat karya manusia.
c.       Hakekat kedudukan manusia dalam ruang dan waktu.
d.      Hakekat manusia dengan alam sekitarnya.
e.       Hakekat hubungan manusia dengan sesamanya.
Secara sederhana Ilmu Sosial dan Budaya adalah pengetahuan yang diharapkan dapat memberikan pengetahuan dasar dan pengertian umum tentang konsep-konsep yang dikembangkan untuk mengkaji masalah-masalah manusia dan kebudayaan. Istilah ISBD dikembangkan petama kali di Indonesia sebagai pengganti istilah basic humanitiesme yang berasal dari istilah bahasa Inggris “the Humanities”.
Adapun istilah humanities itu sendiri berasal dari bahasa latin humnus yang artinya manusia, berbudaya dan halus. Dengan mempelajari Ilmu Sosial dan Budaya diandaikan seseorang akan bisa menjadi lebih manusiawi, lebih berbudaya dan lebih halus, dengan mempelajari Ilmu Sosial dan Budaya diandaikan seseorang akan bisa menjadi lebih manusiawi, lebih berbudaya dan lebih halus, dengan demikian bisa dikatakan bahwa ilmu Sosial dan Budaya berkaitan dengan nilai-nilai manusia sebagai homo humanus atau manusia berbudaya. Agar manusia menjadi humanus, mereka harus mempelajari ilmu yaitu the humanities disamping tidak meninggalkan tanggung jawabnya yang lain sebagai manusia itu sendiri.
Untuk mengetahui bahwa ilmu budaya dasar termasuk kelompok pengetahuan budaya lebih dahulu perlu diketahui pengelompokan ilmu pengetahuan. Prof Dr.Harsya Bactiar mengemukakan bahwa ilmu dan pengetahuan dikelompokkan dalam tiga kelompok besar yaitu :
1.      Ilmu-ilmu Alamiah (natural scince).
Ilmu-ilmu alamiah bertujuan mengetahui keteraturan-keteraturan yang terdapat dalam alam semesta. Untuk mengkaji hal inidigunakan metode ilmiah. Caranya ialah dengan menentukan hukum yang berlaku mengenai keteraturan-keteraturan itu, lalu dibuat analisis untuk menentukan suatu kualitas. Hasil analisis ini kemudian digeneralisasikan. Atas dasar ini lalu dibuat prediksi.
2.      Ilmu-ilmu sosial (social scince).
Ilmu-ilmu sosial bertujuan untuk mengkaji keteraturan-keteraturan yang terdapat dalam hubungan antara manusia. Untuk mengkaji hal ini digunakan metode ilmiah sebagai pinjaman dari ilmu-ilmu alamiah.
3.      Pengetahuan budaya (the humanities) bertujuan untuk memahami dan mencari arti kenyataan-kenyataan yang bersifat manusiawi. Untuk mengkaji hal ini digunakan metode pengungkapan peristiwa-peristiwa dan kenyataan-kenyataan yang bersifat unik, kemudian diberi arti. Pengetahuan budaya (the humanities) dibatasi sebagai pengetahuan yang mencakup keahlian (disiplin) seni dan filsafat. Keahlian ini pun dapat dibagi-bagi lagi ke dalam berbagai hiding keahlian lain, seperti seni tari, seni rupa, seni musik dan lain-lain, sedangkan ilmu budaya dasar (Basic Humanities) adalah usaha yang diharapkan dapat memberikan pengetahuan dasar dan pengertian umum tentang konsep-konsep yang dikembangkan untuk mengkaji masalah-masalah manusia dan kebudayaan, dengan perkataan lain Ilmu Sosial dan Budaya menggunakan pengertian-pengertian yang berasal dari berbagai bidang pengetahuan budaya untuk mengembangkan wawasan pemikiran serta kepekaan mahasiswa dalam mengkaji masalah-masalah manusia dan kebudayaan.
Ilmu budaya dasar berbeda dengan pengetahuan budaya. Ilmu budaya dasar dalam bahasa Ingngris disebut basic humanities. Pengetahuan budaya dalam bahas inggris disebut dengan istilah the humanities. Pengetahuan budaya mengkaji masalah nilai-nilai manusia sebagai mahluk berbudaya (homo humanus). Sedangkan ilmu budaya dasar  bukan ilmu tentang budaya, melainkan mengenai pengetahuan dasar dan pengertianumum tentang konsep-konsep yang dikembangkan untuk mengkaji masalah-masalah manusia dan budaya.

2.1 Perilaku Masyarakat sebagai Akibat Adanya Perubahan Sosial Budaya
a.      Akibat Positif.
Perubahan dapat terjadi jika masyarakat dengan kebudayaan mampumenyesuaikan diri dengan perubahan. Keadaan masyarakat yang memilikikemampuan dalam menyesuaikan disebut adjusment, sedangkan bentuk  penyesuaian dengan gerak perubahan disebut integrasi. 
b.      Akibat Negatif.
Akibat negatif terjadi apabila masyarakat dengan kebudayaannya tidak mampu menyesuaikan diri dengan gerak perubahan. Ketidakmampuan dalam menyesuaikan diri dengan perubahan disebut maladjusment. Maladjusment akan menimbulkan disintegrasi. Penerimaan masyarakat terhadap perubahan sosial budaya dapat dilihat dari perilaku masyarakat yang bersangkutan. Apabila perubahan sosial budaya tersebut tidak berpengaruh pada keberadaan atau pelaksanaan nilai dan norma maka perilaku masyarakat akan positif. Namun, jika perubahan sosial budaya tersebut menyimpang atau berpengaruh pada nilai dan norma maka perilaku masyarakat akan negatif

Tidak ada komentar: